Upgrading Pengajar Sekolah Qur’an UNS

Surakarta – Ahad (30/04), Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salaam pernah mengabarkan kepada kita sebagaimana hadits berikut,

عَنْ عُثْمَانَ – رضى الله عنه- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري

Artinya: “Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.” Hadits riwayat Bukhari.

Salah satu cara untuk menjadi sebaik – baik hamba adalah sebagai seorang pembelajar dan pengajar Al Qur’an. Sebagai salah satu wujud pengamalan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salaam tersebut  Unit Kegiatan Mahasiswa Ilmu Al Qur’an UNS memfasilitasi ilmu bagi para pengajar dalam program kerja Sekolah Qur’an yang mewadahi mahasiswa UNS untuk belajar Al Qur’an, dalam bentuk kegiatan Upgrading Pengajar Sekolah Qur’an.

Kegiatan Upgrading Pengajar Sekolah Qur’an ini telah dilaksanakan pada hari Ahad, 30 April 2017 bertempat di perpustakaan Nurul Huda Islamic Center UNS. Pada kegiatan ini dikupas tuntas tentang buku Karimah sebagai pegangan pengajar maupun peserta dalam Sekolah Qur’an. Materi disampaikan oleh Ustadz Mahbub Hanafi Abu Akmal yang merupakan salah satu pengajar di PPTQ Abi Ummi.

Mengutip dari beliau Ustadz Mahbub bahwa modal utama sebagai seorang pengajar Al Qur’an adalah yakin bahwa belajar Al-Qur’an itu mudah. Biasanya yang dianggap paling sulit dalam mempelajari Al-Qur’an itu pada hukum-hukumnya (tajwid). Akan tetapi ketika sudah dipahami tanda – tandanya, maka mengajar Al Qur’an akan terasa mudah.

Salah satu adab dalam membaca Al Qur’an adalah membacanya dengan tartil sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“dan bacalah Al Qur’an dengan tartil” (QS. Al Muzammil: 4).

Yang dimaksud dengan tartil adalah sesuai kaidah. Seperti yang disampaikan oleh Imam Ali radhiallahu ‘anhu yang termasuk tartil mencakup beberapa hal, yaitu tajwidul huruf dan ma’rifatul huruf , yaitu mengetahui kapan kita harus berhenti dalam ayat Al-Qur’an. Sehingga pengajar wajib hukumnya atau sedikitnya menegtahui bahasa Arab. Tanda – tanda waqaf harus selalu diperhatikan.

Adapun kita mengetahui istilah tajwid secara bahasa adalah tahsin. Secara istilah adalah mengeluarkan setiap huruf dari tempatnya. Hukum tajwid yaitu fardhu kifayah, seperti halnya mempelajari Al-Qur’an. Sedangkan mengamalkannya hukumnya fardhu ‘ain. Tidak membaca Al-Qur’an dengan tartil maka ia berdosa, sehingga tidak cukup hanya dengan membaca buku saja tetapi harus bertalaqi.

Ketika mempelajari Al-Qur’an ada beberapa hal yang juga harus ditekankan yaitu makhorijul huruf, hukum tajwid, serta Rasm atau bagaimana cara penulisan Al-Qur’an. Pada umumnya masih menjumpai kesalahan dalam membaca Al-Qur’an, antara lain kesalahan Lahn jali, ini merupakan kesalahan fatal, karena dapat mengubah arti ayat Qur’an yang dibaca, misalnya salah dalam pengucapan huruf atau salah harakat dan panjang pendek. Selain itu ada kesalahan Lahn khafi, ini merupakan kesalahan ringan yang tidak sampai mengubah arti ayatyang dibaca, misalnya kurang gunnah atau terlalu panjang pada mad.

Membaca Al Qur’an adalah amalan agung yang memiliki banyak keutamaan. Maka sudah seharusnya berbekal ilmu yang baik untuk mendapatkan keutamaannya secara maksimal.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “…tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitabullah dan mempelajarinya bersama melainkan turun kepada mereka ketentraman, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan para mahluk yang berada  di sisi-Nya”. HR. Muslim.

(AZV/IQ UNS)