Jalan Keluarga Pencinta Al-Qur’an

Oleh: Rendra Mochtar Habibie

Betapa indahnya sekumpulan manusia yang bergerak mendekat menuju kesempurnaan iman, kebahagiaan islam. Mereka berlomba-lomba menggerakan langkah untuk sempatkan sedikit-sedikit, bukan sekadar sedikit dari waktu luangnya untuk berdekat-dekatan dengan Al-Qur’an. Mereka membaca, menghafal, hingga mengamalkan dalam kehidupannya. Inilah kesempurnaan yang dicari, keinginan yang dirindui oleh setiap kesejatian seorang muslim, baik laki-laki maupun perempuan.

Keluarga. Ia adalah sebuah madrasah utama bagi anak, khususnya dalam pembentukan kepribadian anak secara Rabbani. Di sanalah, awal mula pembentukan sebuah output (sifat,sikap,perbuatan) yang kemudian digunakan untuk disosialisasikan/diaplikasikan di masyakarat. Pengaruhnya, sekali lagi berawal dari keluarga entah kebaikan dan keburukan itu terjadi. Jika keluarga berorientasi dalam kebaikan, maka luruslah. Dan jika keluarga berorientasi dalam keburukan, maka bengkoklah.

Oleh karenya, manakala keluarga sudah berorientasikan dengan tujuan yang jelas dalam berumah tangga dan mendidik anak, maka jalan lurus telah terbuka lebar-selebarnya. Mula-mulanya, seorang suami harus menentukan seorang istri yang kelak dari rahim istrinya lah anaknya dilahirkan. Tentunya, istri yang muslimah lagi sholehah. Selanjutnya, menentukan visi bersama istri bahwa kelak “kapal keluarga” ini akan dibawa ke mana. Ya, meskipun seorang suami tetap memiliki prinsip atau tujuan utama dalam menahkodai rumah tangganya. Semisal, menjadikan keluarganya para pencinta Qur’an (ahlul Qur’an).

Pada umumnya sebuah keluarga beranggotakan seorang ayah, ibu, dan beberapa anak. Dari sekian anggota tersebut biasanya orang tua memiliki tujuan masing-masing. Ada yang islami, biasa, dan keburuk-burukan. Alhasil, anak pun terdidik atau dididik secara baik atau pun buruk. Ada yang tak kenal dengan Allah, Rasululullaah, bahkan dengan Al-Qur’an. Maka, inilah gambaran keluarga yang perlu dihindari atau ditinggalkan. Naudzubillaah.

Aduhai, alangkah sejuk jika kita dapat memandangi anak-anak yang mengikrarkan kecintaan pada Sang Pencipta, mengatakan kerinduan serindu-rindunya pada Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi Wa Sallam, dan mengumandangkan Al Qur’an dari bibir mungilnya. Subhanallaah, sungguh inilah keindahan di atas keindahan.

Beberapa hari yang lalu, saya sempat mengikuti kajian Ustadz Burhan Shadiq (Penulis). Tema yang diangkat saat itu cukup menarik dan menggelitik. Bahasan seorang ustadz yang marak menggalakkan tulisan bernuansa Islam ini saat itu mengarah pada keluarga terkhusus masalah anak-anak.

Disebutkan di sana, bahwasanya kebanggaan orang tua saat ini bukan terletak pada kecintaannya pada Allah dan Rasul-Nya, akan tetapi sebaliknya. Mereka lebih membangga apabila seorang anak mengikuti perkembangan zaman. Bisa mendendangkan lagu-lagu era kini (Iwak peyek, separuh aku, dll). Terlebih dari itu, anak bisa menari atau berjoget. Sungguh, ini sudah bagian dari kemunduran zaman dan pencideraan generasi bangsa. Islam tak lagi dibanggakan malah seakan-akan Islam dikesampingkan dan hanya dibutuhkan sesekali; masa emergency.

Misalkan: Bacaan dan hafalan qur’an. Ini akan lebih baik jika diajarkan sejak dini. Dan benar-benar serius mengajarkannya mulai dari cara membaca (Tahsin), hingga menghafal (Tahfidz). Dan, bukan sekadar surat-surat biasa saja yang diarahkan untuk dibaca dan dihafal (Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nass), namun lebih daripada itu. Syukur-syukur anak diarahkan untuk hafal juz ‘amma (Juz 30) dan juz-juz lainnya dalam Al Qur’an. Subhaanallaah.

Masih banyak kesempatan. Mari kita ubah haluan keluarga menuju jalan keluarga yang cinta kepada Allah, Rasul, hingga Al Qur’an. Sungguh, inilah keutamaan. Dibandingkan apabila kita mengekor perkembangan zaman yang jelas tak berkandung kebaikan. Bukankah lebih cakep, jika anak kita seorang hafidz/hafidzah (penghafal qur’an) sekaligus seorang guru, dokter, atau pengusaha sukses? Daripada hanya ber-title; guru, dokter, atau pengusaha sukses?

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

“Barangsiapa yang mempelajari Al Qur’an di usia dini, maka Allah akan mencampurkan dengan daging dan darahnya.” (HR. Bukhari)

Demikianlah Rasulullaah menyampaikan, seorang manusia yang ditunjuk sebagai suri tauladan bagi seluruh manusia di dunia. Ia sampaikan petunjuk. Ia beritakan kebaikan. Bahwa sebaik-baik manusia bertingkah adalah mereka yang berkenan belajar dan mengajarkan Al Qur’an. Maka, pendidikan sejak dini dengan Al Qur’an bagi anak adalah solusi terbaik guna mendapatkan kemuliaan. Terlebih, hal ini diikuti dan dilakoni pula oleh orang tua. Agar menjadi motivasi berat bagi anak, sehingga anak pun termotivasi meniru kebaikan akhlak orang tua dalam belajar, berinteraksi, dan beramal dengan Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya membaca satu ayat konsisten dalam sehari lebih baik daripada tidak sama sekali, bukan?

Dengan demikian, bagi semua orang tua yang telah mendawamkan dirinya untuk mengajak anak bersahabat dengan Al Qur’an, maka berbahagialah merayakan kebaikan besar dari Allah.

“Barangsiapa yang membaca Al Qur’an dan mengamalkan apa yang di dalamnya, maka Allah akan mengenakan mahkota kemuliaan bagi kedua orangtuanya. ” (HR. Abu Daud)