Bulan Ramadhan Syahrul Qur’an

Alhamdulillah, sudah berjumpa dengan bulan Ramadhan, bulan yang disebut dengan Syahrul Qur’an (bulan Al-Qur’an), yang mana puncaknya adalah adanya lailatul qadr. Bulan dimana Rasulullah me-muroja’ah (mengulang setoran) hafalan Al-Qur’a nnya secara langsung kepada malaikat jibril ‘alaihissalam. Bulan dimana para salafush shalih, para pendahulu kita yang shalih ‘pol-polan’ dengan tilawatul Qur’an.

Inilah istimewanya Al-Qur’an. Al-Qur’an itu mulia. Maka, apapun yang terkait dengan Al-Qur’an akan kecipratan mulia, akan ketambahan berkahnya. Dan Ramadhan adalah salah satu yang mendapatkan efeknya. Ramadhan mulia karena di dalamnya diturunkan Al-Qur’an. Madinah dan Makkah menjadi dua kota yang mulia karena di kedua nya lah diturunkan Al-Qur’an, ada surat makiyyah dan madaniyyah bukan? Para penghafal Al-Qur’an itu juga menjadi mulia dan beroleh keistimewaan karena apa? Ya karena Al-Qur’an. Umat islam ini pasti akan kembali menjadi mulia dan terhormat jika kembali kepada Al-Qur’an. Sayangnya, saat ini rasanya kita masih jauh. Jauh… (sad)

Nah, apa yang dilakukan para sahabat, taabi’in, dan taabiut-taabi’in untuk menyambut bulan ramadhan? Mereka persiapan dulu, dan persiapannya nggak main-main lho. Bersebab ingin bisa banyak baca Al-Qur’an di bulan Ramadhan, mereka dari bulan sya’ban sudah latihan banyak baca Al-Qur’an dulu. Imam Malik, gurunya Imam Syafi’i, beliau ini sehari-harinya mengajarkan ilmu, mengisi kajian ta’lim, dan seterusnya. Kalau sudah mendekati bulan Ramadhan, beliau liburkan semua aktivitas ta’limnya, pengajiannya dihentikan dulu, beliau memfokuskan diri membaca Al-Qur’an. Ya, Pemanasan dulu, banyak-banyak baca Al-Qur’an. Kenapa seperti itu? Ibaratnya kalau kita mau main bola, biasanya pemanasan dulu kan? Gak langsung main, supaya gak kram otot kaki kita. Begitu juga dengan tilawah Al-Qur’an. Orang kalau gak biasa tilawah, baru baca 2 halaman rasanya udah gak sabar, pengennya buka gadget atau tab mulu, ya nggak? Makanya supaya kuat dan tahan lama tilawah Al-Qur’an, perlu dilatih..

Kalau kita tahu bagaimana para sahabat dan orang-orang shalih memanfaatkan Ramadhan mereka, kita akan nangis, malu, merasa gak ada apa-apanya. Astaghfirullah… Disebutkan bahwa Az-Zuhry, seorang taabi’in, ketika datang bulan Ramadhan, maka beliau meninggalkan segala aktivitas dan ibadah lainnya, dan hanya fokus pada 2 ibadah, apa itu? Memberikan makanan untuk orang yang berpuasa, dan Membaca Al-Qur’an. Para shahabat dan tabi’in ketika bulan Ramadhan, seakan mereka ‘resign’ sementara dari aktivitas lain, dan fokus untuk membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap 3 malam sekali. 3 hari khatam sekali, bro.. Bahkan banyak dari mereka yang khatam setiap 2 malam, artinya sehari 15 juz Al-Qur’an dibaca. Dan kalau sudah masuk 10 hari terakhir Ramadhan, mereka lebih semangat lagi, sehari semalam khatam sekali. Jadi kalau ditotal, minimal selama bulan Ramadhan para shahabat dan tabi’in itu khatam minimal 20 kali.

Itu minimal lho ya.. Imam Syafi’i itu khatam Al-Qur’an 60 kali dalam Ramadhan, sehari 2 kali khatam, dan yang lebih fantastis. Imam Syafi’i biasa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sholat. Bahkan, Utsman bin Affan itu biasa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu raka’at. Nggak main-main. Kalo kita baca Al-Qur’an di luar sholat kan masih bisa sambil baca mushaf, diselingi minum, tolah-toleh, dan lain sebagainya. Lha kalo sholat, gak bisa bro.. harus fokus. Batal kalo gerak-gerak mulu..

Yang lebih keren lagi, Ibnu Abbas itu biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan ramadhan antara maghrib dan isya’. Kan cuma singkat waktunya, kok bisa? Bisa lah.. gini soalnya, kalo di Arab, pas musim panas itu maghribnya jam 7, isya’nya jam 10 malam. Nah, sunnahnya, sebenarnya sholat isya’ itu diakhirkan hingga agak malam hari (sekira jam 12 atau jam 1 malam) Rasulullah pernah mengakhirkan jama’ah sholat isya’ hingga pertengahan malam, sampai-sampai para sahabat lelah menanti beliau di masjid. Akan tetapi, jika mengakhirkan sholat isya’ ini dinilai malah akan memberatkan kaum muslimin yang lain untuk berjama’ah sholat isya’ karena misalnya sudah seharian bekerja, dan seterusnya, maka dianjurkan tetep sholat isya’ di awal waktu. Nah.. para shahabat dulu, mereka biasa mengakhirkan sholat isya’ berjama’ah ini karena sunnah. Ini disebut Al-‘atamah. Dan sekali lagi, Ibnu Abbas biasa mengkhatamkan Al-Qur’an diantara maghrib dan isya’ ini. Masya Allah..

Inilah kesungguhan para shahabat, tabi’in, dan taa biut taabi’in dalam memanfaatkan waktu di bulan Ramadhan. Mereka fokus pada siang hari menahan lapar dan syahwat, serta pembatal puasa lainnya. Dan pada malam hari fokus menahan kantuk untuk tidak tidur guna mengkhatamkan Al-Qur’an. Barulah jika seperti ini, karena lelah membaca Al-Qur’an hingga tertidur, dikatakan tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah. Jadi, bukan tertidur setelah sholat shubuh karena kekenyangan saat sahur, Hehe..

Tentunya yang dimaksud ‘resign’ dari semua aktivitas dan fokus membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan bukan kemudian menelantarkan pekerjaan dan tugas yang lain. Tetap melakukan pekerjaan rumah, tugas akdemik, bekerja, dan aktivitas harian biasa dengan optimal. Ditambah dengan menyediakan waktu khusus setiap harinya yang digunakan fokus untuk mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak-banyaknya. Tidak malah disibukkan dengan berbagai jadwal acara buka bersama tiap harinya, dan ‘ngabuburit’ yang malah seakan penuh kesiaan, nanya diisi dengan canda tawa. Jauh dari meneladani pendahulu-pendahulu kita yang shalih. Shaalihin dan shaalihaat. Wallahul musta’an. Na’udzu billah…

Terakhir, ada sebuah hadits yang menarik terkait dengan hal ini, bahwa puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada pelakunya di hari kiamat nanti. Telah shohih tersebut dalam hadits Abdullah bin Umar, diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Puasa dan Al-Qur’an keduanya akan memberi syafaat kepada hamba Allah pada hari kiamat. Puasa berkata: ‘ya Allah, aku menghalanginya dari makan, minum dan syahwat di siang hari, maka berilah syafaat untuknya karena aku’. Al-Qur’an pun berkata: ‘ya Rabbi, aku telah telah menahannya dari tidur di malam hari (karena membaca aku), maka berilah ia syafaat karena aku”.

Maka, yuk pemanasan dulu, persiapan, dan latihan banyak-banyak baca Al-Qur’an dulu. Televisi diliburkan sejenak dulu. Mudah-mudahan dengan begitu, Ramadhan kita kali ini menjadi Ramadhan yang penuh berkah, insya Allah. Aamiin

By Humamuddin

(NN/IQUNS)